Retail Inventory Management adalah: Arti, Cara Kerja, Strategi

Retail Inventory Management, atau Manajemen Persediaan Ritel, memainkan peran sentral dalam operasi bisnis ritel. Hal ini melibatkan proses strategis perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan kontrol terhadap persediaan produk untuk memastikan ketersediaan optimal, pengurangan biaya, dan peningkatan kepuasan pelanggan. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi berbagai aspek Retail Inventory Management, tantangan yang dihadapi oleh bisnis ritel, dan strategi-strategi untuk mengoptimalkan proses ini.

Apa itu Retail Inventory Management

Retail Inventory Management adalah pendekatan yang terstruktur dalam pengelolaan persediaan barang dagangan oleh perusahaan ritel. Hal ini mencakup langkah-langkah strategis untuk mengelola aliran produk dari gudang hingga ke tangan konsumen akhir. Tujuannya adalah meminimalkan biaya penyimpanan sambil memastikan ketersediaan produk yang memadai untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Baca juga: Logistics Service Provider adalah: Arti, Tipe, Tugasnya

Cara Kerja Retail Inventory Management

Cara Kerja Retail Inventory Management

Manajemen persediaan ritel bekerja dengan cara membuat sistem untuk mencatat produk, menerima mereka ke dalam persediaan, melacak perubahan saat penjualan terjadi, mengelola aliran barang dari pembelian hingga penjualan akhir, dan memeriksa jumlah stok.

Informasi dari sistem ini membantu Anda mencapai manfaat-manfaat dari manajemen persediaan ritel, seperti biaya yang lebih rendah dan margin keuntungan yang lebih tinggi.

10 Langkah Dasar dalam Manajemen Persediaan Ritel Sepuluh langkah dasar dalam manajemen persediaan ritel memverifikasi barang yang Anda miliki, jumlahnya, lokasinya, dan rincian lain seperti tanggal kedaluwarsa. Data stok ini bermanfaat untuk memaksimalkan keuntungan dengan memahami permintaan, biaya, dan variabel lainnya.

Anda dapat mengintegrasikan prosedur-prosedur ini ke dalam sistem manajemen persediaan ritel, yang bisa sebegitu sederhana seperti buku besar kertas atau spreadsheet, tetapi umumnya melibatkan solusi elektronik.

Infografis 10 langkah dalam manajemen persediaan ritel Berikut adalah pembagian langkah-langkah dalam manajemen persediaan ritel.

1. Membuat Catatan Terpusat untuk Semua Produk

  • Nama Produk
  • Stock-keeping unit (SKU)
  • Merek
  • Variabel seperti ukuran, harga eceran, kategori produk, nomor lot, lokasi, dan tanggal kedaluwarsa.
  • Pemasok dan SKU pemasok
  • Biaya grosir
  • Jumlah pemesanan ekonomis (EOQ)
  • Jumlah kemasan
  • Inventaris yang tersedia
  • Waktu pemesanan ulang
  • Tambahkan gambar dan deskripsi produk untuk membantu staf mengidentifikasi produk.
  • Menetapkan kebijakan untuk memasukkan persediaan, termasuk siapa yang bertanggung jawab dan kapan melakukannya.
  • Data yang kaya membantu membuka potensi dari sistem manajemen persediaan ritel.

2. Mengidentifikasi Lokasi Stok

  • Radio frequency identification (RFID)
  • Barcode dan label dengan kode kategori dan departemen untuk mengotomatisasi pemetaan persediaan.

3. Melakukan Pencacahan Stok Secara Teratur dan Akurat

  • Perhitungan berkala untuk memastikan akurasi.
  • Mengingatkan kerugian, kerusakan, cacat, dan retur untuk menghindari kesalahan.
  • Sistem manajemen persediaan ritel memudahkan proses ini, memungkinkan fokus pada deviasi.
  • Frekuensi pencacahan tergantung pada kompleksitas bisnis, skala, dan jenis sistem manajemen persediaan yang digunakan.
  • Disarankan untuk mencacah persediaan setidaknya sekali per kuartal atau sekali setahun.

4. Menggabungkan Data Penjualan dengan Data Persediaan untuk Memudahkan Pelaporan

  • Integrasi data penjualan dan persediaan.
  • Menggunakan data produk untuk menentukan kapan dan seberapa banyak melakukan pemesanan ulang dan kapan memberikan promosi atau diskon.

5. Membuat Proses Pembelian

  • Jadwal untuk meninjau data dan melakukan pemesanan agar tidak tertinggal dari tren musiman atau risiko kehabisan stok.
  • Dengan sistem elektronik, dapat mengatur tingkat stok untuk produk individual yang memicu peringatan pemesanan ulang.
  • Tetapkan level stok dengan buffer agar penjualan dapat berlanjut pada tingkat normal.
  • Pada sistem manual, tinjau item yang habis atau mencapai titik pemesanan ulang dan tambahkan ke daftar pembelian.
  • Prioritaskan pembelian berdasarkan profitabilitas, popularitas, dan waktu pengiriman.
  • Buat pesanan pembelian.

6. Menetapkan Proses untuk Potongan Harga dan Promosi

  • Disiplin dalam memberikan diskon dan menjual barang yang kurang laku.
  • Membuat strategi sebelumnya untuk promosi untuk memastikan stok mencukupi untuk memenuhi permintaan.

7. Membuat Prosedur Penerimaan Stok

  • Memverifikasi pesanan masuk dan memasukkan barang dengan akurat ke dalam sistem persediaan.
  • Tanpa prosedur yang ditetapkan, kesalahan pemasok atau kerusakan dalam pengiriman dapat menyebabkan masalah seperti kehabisan stok yang tidak terduga.
  • Periksa setiap pengiriman sesuai pesanan untuk memastikan isi sesuai.
  • Hitung karton dan pallet, konfirmasi jenis dan jumlah produk serta catat kesalahan, kerusakan, atau kekurangan.
  • Ikuti dengan pemasok tentang masalah apa pun.
  • Masukkan produk baru ke dalam persediaan dan simpan barang.
  • Tambahkan tag harga atau barcode ke stok sesuai kebutuhan.
  • Manajemen persediaan berkesinambungan melibatkan menghitung barang begitu tiba.

8. Membuat Prosedur untuk Retur

  • Tanpa proses manajemen persediaan untuk menangani retur pelanggan, risiko menyimpan stok yang tidak dapat dijual meningkat.
  • Cek apakah produk yang dikembalikan rusak atau cacat dan tentukan tindakan yang sesuai.
  • Jika produk masih dapat dijual, tambahkan ke persediaan dan tempatkan di tempat yang benar.
  • Buat kebijakan pengembalian yang efisien dan tingkatkan pengalaman pelanggan.

9. Menentukan Prosedur untuk Barang Mati (Dead Stock)

  • Inventaris berlebih mengikat modal dan memberatkan profitabilitas.
  • Rekam barang yang termasuk dalam kategori ini dan hapus dari persediaan.
  • Tentukan tempat untuk menyimpan barang mati dan tangani secara teratur.
  • Kirim barang yang dapat dikembalikan kepada pemasok untuk kredit segera.
  • Kembalikan barang rusak kepada pemasok atau beri tahu mereka sesuai kebijakan mereka.
  • Sisanya dapat dijual ke outlet, didonasikan, didaur ulang, atau dibuang sesuai kebutuhan produk Anda.

10. Pilih Key Performance Indicators (KPI) Persediaan Anda

  • Pilih dan lacak beberapa indikator kinerja kunci (KPI) untuk mengukur kesuksesan proses Anda.
  • Profitabilitas, nilai persediaan, tingkat putaran, dan tingkat penjualan sangat penting untuk ritel.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, manajemen persediaan ritel bekerja sebagai sistem terpadu yang memastikan ketersediaan produk yang optimal, pengelolaan biaya yang efisien, dan respons yang cepat terhadap perubahan pasar.

Peran Penting Retail Inventory Management

Retail Inventory Management memiliki peran penting dalam kelangsungan dan kesuksesan bisnis ritel. Inilah beberapa peran kunci yang dimainkannya:

Optimasi Persediaan

Retail Inventory Management membantu bisnis untuk menjaga keseimbangan yang tepat antara ketersediaan produk dan permintaan pelanggan. Dengan mengoptimalkan persediaan, bisnis dapat menghindari kekurangan stok yang dapat menyebabkan kehilangan penjualan atau kelebihan stok yang mengakibatkan biaya penyimpanan yang tinggi.

Pemenuhan Permintaan Pelanggan

Dengan memahami pola permintaan pelanggan, manajemen persediaan memastikan bahwa produk yang diminati selalu tersedia. Ini membantu meningkatkan kepuasan pelanggan dan membangun loyalitas, karena pelanggan dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk yang mereka inginkan.

Efisiensi Operasional

Strategi Retail Inventory Management yang baik dapat meningkatkan efisiensi operasional. Penggunaan teknologi otomatisasi dan sistem manajemen persediaan dapat mengurangi kesalahan manusia, mempercepat proses pengambilan keputusan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya.

Pengelolaan Biaya

Manajemen persediaan membantu dalam mengelola biaya secara efektif. Dengan meminimalkan kelebihan stok, bisnis dapat mengurangi biaya penyimpanan dan potensi pemborosan. Selain itu, strategi pemotongan harga yang cerdas dapat membantu menghindari kerugian akibat barang yang lambat laku.

Meningkatkan Profitabilitas

Dengan memastikan persediaan selalu sesuai dengan permintaan pasar, Retail Inventory Management berkontribusi pada peningkatan profitabilitas. Produk yang tersedia dengan baik dan dikelola dengan efisien dapat meningkatkan penjualan dan margin keuntungan.

Respons Cepat terhadap Perubahan Pasar

Manajemen persediaan yang efektif memungkinkan bisnis untuk merespons dengan cepat terhadap perubahan kondisi pasar, tren konsumen, atau faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi permintaan. Ini menciptakan fleksibilitas yang diperlukan untuk tetap kompetitif.

Pengelolaan Rantai Pasokan yang Efisien

Retail Inventory Management bukan hanya tentang stok di toko, tetapi juga melibatkan pengelolaan rantai pasokan secara menyeluruh. Dengan berkolaborasi dengan pemasok dan mitra dalam rantai pasokan, bisnis dapat memastikan ketersediaan bahan dan produk yang diperlukan.

Menghindari Kehilangan Barang (Shrinkage)

Manajemen persediaan membantu mengurangi risiko kehilangan barang akibat pencurian, kerusakan, atau kesalahan administrasi. Dengan memantau stok secara cermat, bisnis dapat mengidentifikasi dan mengatasi masalah kehilangan barang dengan lebih efektif.

Kepatuhan terhadap Regulasi

Bisnis ritel sering kali berurusan dengan regulasi terkait persediaan, seperti pengelolaan barang berbahaya atau tanggal kedaluwarsa. Retail Inventory Management membantu memastikan kepatuhan terhadap regulasi ini untuk menghindari potensi masalah hukum dan reputasi.

Inovasi dan Pertumbuhan

Dengan memahami tren pasar dan kebutuhan pelanggan, manajemen persediaan memainkan peran penting dalam inovasi produk dan pertumbuhan bisnis. Bisnis yang dapat menyesuaikan dan berinovasi dalam portofolio produknya dapat menghadapi persaingan pasar dengan lebih baik.

Baca juga: Dark Store adalah: Arti, Cara Kerja, Manfaat dan Tantangan

Tantangan dalam Retail Inventory Management

Retail Inventory Management, atau manajemen persediaan ritel, adalah aspek kunci dalam operasional bisnis ritel yang melibatkan pengelolaan stok barang dagangan. Tugas ini mungkin terdengar sederhana, namun, dalam kenyataannya, mengelola persediaan dalam lingkungan ritel bisa menjadi tugas yang kompleks dan menantang. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi dalam Retail Inventory Management:

Fluktuasi Permintaan

Permintaan konsumen cenderung fluktuatif, terutama dalam industri ritel. Musim belanja, tren mode, atau bahkan faktor cuaca dapat memengaruhi sejauh mana suatu produk diminati. Mengantisipasi fluktuasi ini dengan akurasi adalah salah satu tantangan utama dalam manajemen persediaan.

Kehilangan Barang (Shrinkage)

Kehilangan barang bisa disebabkan oleh pencurian, kerusakan, atau kesalahan administrasi. Mengurangi kehilangan ini tanpa mengorbankan pengalaman pelanggan dan keuntungan adalah suatu tantangan yang memerlukan solusi efektif.

Keterlambatan Pembaruan Data

Pengelolaan persediaan yang efektif membutuhkan data yang akurat dan terkini. Keterlambatan dalam memperbarui data persediaan dapat menyebabkan keputusan yang tidak akurat, seperti pesanan berlebihan atau kekurangan stok.

Ketersediaan Teknologi

Mengadopsi teknologi yang tepat untuk manajemen persediaan bisa menjadi tantangan. Sistem otomatisasi seringkali memerlukan investasi besar dan integrasi yang rumit, sementara tidak adanya teknologi dapat menghambat efisiensi operasional.

Keterbatasan Ruang Penyimpanan

Terbatasnya ruang penyimpanan dapat menjadi kendala fisik dalam mengelola persediaan. Bisnis mungkin dihadapkan pada pilihan antara menyimpan banyak persediaan untuk memenuhi permintaan dan mempertahankan ruang yang efisien.

Perubahan Teknologi dan Tren

Perkembangan teknologi dan perubahan tren konsumen dapat mempengaruhi jenis barang yang diminati. Mengikuti perkembangan ini tanpa meninggalkan produk yang sudah ada dalam persediaan bisa menjadi tantangan tersendiri.

Kebutuhan Pemeliharaan Persediaan yang Berbeda

Setiap produk mungkin memiliki kebutuhan persediaan yang berbeda. Barang yang mudah rusak atau memiliki umur simpan pendek memerlukan perhatian khusus dalam manajemen persediaan.

Kompleksitas Rantai Pasokan

Bisnis ritel sering kali bergantung pada rantai pasokan yang kompleks. Tantangan muncul ketika salah satu mitra dalam rantai pasokan mengalami masalah, seperti keterlambatan pengiriman atau kualitas produk yang buruk.

Keterlibatan Pelanggan

Keterlibatan pelanggan, terutama dalam dunia e-commerce, dapat meningkatkan ketidakpastian dalam permintaan. Promo, diskon, atau acara penjualan dapat dengan cepat mengubah pola belanja pelanggan.

Kepatuhan Regulasi

Berbagai regulasi terkait persediaan, seperti pengelolaan barang berbahaya atau tanggal kedaluwarsa, dapat menambah kompleksitas dalam manajemen persediaan dan memerlukan kepatuhan yang ketat.

Strategi Retail Inventory Management

Strategi Retail Inventory Management

Retail Inventory Management, atau manajemen persediaan ritel, adalah suatu pendekatan strategis dalam mengelola stok barang dagangan di lingkungan bisnis ritel. Strategi ini memerlukan pemahaman mendalam tentang dinamika pasar, perilaku konsumen, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi persediaan. Berikut adalah penjelasan panjang mengenai strategi Retail Inventory Management:

1. Analisis Pasar dan Permintaan

Analisis pasar yang mendalam dan pemahaman yang baik terhadap pola permintaan konsumen adalah fondasi dari strategi Retail Inventory Management yang efektif. Melalui pengamatan tren pasar, perubahan musiman, dan preferensi pelanggan, bisnis ritel dapat membuat ramalan yang lebih akurat untuk mengelola persediaan dengan tepat.

2. Otomatisasi Proses

Mengintegrasikan teknologi otomatisasi, seperti sistem barcode atau RFID, dalam manajemen persediaan dapat meningkatkan efisiensi operasional. Sistem ini tidak hanya meminimalkan kesalahan manusia tetapi juga memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap pergerakan barang di seluruh rantai pasokan.

3. Strategi Kategori Barang (ABC Analysis)

Strategi ini melibatkan pengelompokan barang ke dalam kategori A, B, dan C berdasarkan nilai dan volume penjualan. Barang kategori A, dengan nilai tinggi namun volume rendah, mungkin memerlukan perhatian khusus dalam manajemen persediaan untuk memaksimalkan keuntungan.

4. Kemitraan yang Kuat dengan Pemasok

Membangun hubungan yang erat dengan pemasok membuka jalur komunikasi yang efektif. Dengan berbagi informasi mengenai perkiraan permintaan, promosi, dan perubahan kebijakan stok, bisnis ritel dapat mengoptimalkan rantai pasokan dan mengurangi risiko keterlambatan pengiriman.

5. Penentuan Level Persediaan Optimal

Menentukan level persediaan optimal adalah tantangan krusial. Ini melibatkan analisis yang cermat untuk menemukan keseimbangan antara memenuhi permintaan pelanggan dan menghindari biaya penyimpanan yang berlebihan. Penerapan model EOQ (Economic Order Quantity) adalah salah satu metode yang umum digunakan.

6. Sistem Peringatan Dini

Menerapkan sistem peringatan dini memungkinkan bisnis untuk merespons cepat terhadap perubahan kondisi pasar atau ketidaksesuaian antara permintaan dan persediaan aktual. Notifikasi otomatis dapat memperingatkan tentang kekurangan stok atau kelebihan persediaan.

7. Inovasi dalam Pemotongan Harga (Markdown)

Strategi pemotongan harga yang cerdas untuk barang yang lambat laku atau mendekati tanggal kedaluwarsa dapat membantu mengoptimalkan persediaan. Ini tidak hanya mencegah kerugian, tetapi juga dapat meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.

8. Analisis Kinerja Persediaan Berkala

Melakukan analisis kinerja persediaan secara teratur adalah langkah penting untuk memperbaiki dan meningkatkan strategi yang diterapkan. Evaluasi terhadap keberhasilan model manajemen persediaan dan pengidentifikasian area perbaikan dapat membantu bisnis berkembang.

9. Pelatihan Karyawan

Mengedukasi karyawan mengenai pentingnya manajemen persediaan dan cara terbaik untuk melaksanakannya dapat membantu mengurangi kesalahan dan meningkatkan kerjasama dalam tim. Karyawan yang terlatih dengan baik dapat merespons lebih baik terhadap perubahan dan tantangan.

10. Keterlibatan Aktif dengan Pelanggan

Mengidentifikasi tren konsumen, mendengarkan umpan balik pelanggan, dan merespons perubahan preferensi dengan cepat adalah bagian integral dari strategi Retail Inventory Management. Keterlibatan aktif dengan pelanggan membantu bisnis untuk tetap relevan dan memenuhi harapan pasar.

Kesimpulan

Manajemen persediaan ritel bukan hanya tentang memastikan stok tersedia, tetapi juga tentang pengelolaan risiko dan optimalisasi biaya. Dengan menerapkan strategi yang sesuai dengan karakteristik bisnis, bisnis ritel dapat mencapai efisiensi operasional yang tinggi, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan meraih keberhasilan jangka panjang.

Baca juga: Semi Finished Goods adalah: Arti, Peran Penting, Contoh